Terimakasih Ibu Srikonde
Hati muslim mana yang tak terbakar di kala mendengar pernyataan beliau?
Yah. Mungkin saja ada beberapa orang yang menanggapi hal ini dengan sewajarnya saja, atau bahkan sama sekali tak tersentuh atau tak ada sakit yang dia rasakan, semoga hal itu bukan pertanda bahwa dihati kita ada kekafiran (Naudzubillah). Wahai jiwa-jiwa yang kafir, yang telah menggugurkan keimannya dan menjual akhirat demi dunia, Besyahadat ulanglah, taubatlah dengan taubat sesungguhnya.
Kejadian ini entah aku lebih memilih diam daripada membuat kata-kata atau membalas dengan puisi, yah seperti kita membalas kejahatan dengan kejahatan, bukan esensi itu yang aku cari. Yah, aku sedang belajar cara memaafkan sesungguhnya, salah satu cara agar tidak menodai hatiku dengan cara-cara yang tidak perlu. Apakah dengan membuat puisi atau sastra latah hal itu lantas mengubah stigma berfikir ibu konde? Tentu saja tidak dilihat dari gaya tubuh dan bahasanya saja entah mengapa hal itu memang “setingan” belaka, permintaan maafpun rasanya “setingan” belaka semoga hanya fikira burukku. Satu-satunya jalan yang kupilih adalah mendoakan beliau, dan mendoakan diri ini dan semua muslim untuk bersabar. Sungguh ibu konde malah membuktikan bahwa generasi mereka berdiri di mana. Sehingga, lebih baik diam dalam marah dan mendoakan.
Wahai saudaraku seiman Insya Allah, Allah akan memerdekaan dan memenangkan Agama Allah ini dengan penuh suka cita hingga tiba masanya ujung akhirat/kiamat. Kita tunggu saja, entah pada masa kapan, apakah generasiku masih hidup atau tidak. Wallahu alam.
Wahai saudraku bersabarlah, kebangkitan islam di Indonesia tinggal sedikit lagi, semakin banyak kita dicaci semakin banyak orang yang tersadarkan dan muncul ghiroh keislamannya, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai mencari mempertanyakan kadar keislaman mereka.
Wahai saudaraku, Insya Allah kita akan terus berjuang di Agama kita ini, semoga Allah memberikan kita kekuatan dan kesehatan untuk terus berdakwah dengan cara kita masing-masing. Insya Allah niat dakwah kita sampai pada yang kita tuju yaitu Indonesia menerapkan syariat islam seperti negara arab lainnya.
Berbahagialah wahai saudaraku, sebentar lagi yah sebentar lagi, sabarlah bagaikan menunggu waktu magrib dikala puasa, sungguh penantian ini sangat indah dengan ukhuwah Islamiyah masing-masing kelempok yang terbangun dengan sederhana kemudian menjadi megah.
Wahai saudaraku mari kita saling mendoakan dan bersama-sama mencari ridhonya.
Komentar
Posting Komentar