Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Resign

Jadi beberapa hari ini gw lagi ngambil kerjaan setelah dalam 3 bulan lamanya gw mutusin buat bertekad untuk nggak ngambil kerjaan apapun itu. Nah, akhirnya gw tergiurlah dengan salah satu international   company sebut saja X. Di perusahaan X job desk gw sebagai translator (Inggris - Indonesia) yang ngikuti user kemanapun mereka pergi. Awal interview gw sama sekali nggak berharap untuk diterima gw pasrahin aja sama Allah SWT yang udah ngatur hidup gw gimana baiknya. Satu-satunya Alasan gw ngambil kerjaan inipun untuk jadi ajang practice speaking with bule tentunya. Nampaknya gw terlalu over expectation . Jadi gini guys, gw kerjanya dari jam 7 pagi sampe jam 7 malam (realitanya sih pulangnya setengah 6 apa jam 6). cobalah kalian bayangkan, kerjaan gw dari pagi jam 7 sampe jam 12 dan lanjut lagi dari jam 1 sampe habis ashar, itu ngikutin orang kerja di lapangan yang notabenenya lu sebeanrnya kaga dibutuh2in banget, karena disanapun beberapa leader tim mereka udah pada tau ngomong engl...

Terimakasih Ibu Srikonde

Hati  muslim mana yang tak terbakar di kala mendengar pernyataan beliau? Yah. Mungkin saja ada beberapa orang yang menanggapi hal ini dengan sewajarnya saja, atau bahkan sama sekali tak tersentuh atau tak ada sakit yang dia rasakan, semoga hal itu bukan pertanda bahwa dihati kita ada kekafiran (Naudzubillah). Wahai jiwa-jiwa yang kafir, yang telah menggugurkan keimannya dan menjual akhirat demi dunia, Besyahadat ulanglah, taubatlah dengan taubat sesungguhnya. Kejadian ini entah aku lebih memilih diam daripada membuat kata-kata atau membalas dengan puisi, yah seperti kita membalas kejahatan dengan kejahatan, bukan esensi itu yang aku cari. Yah, aku sedang belajar cara memaafkan sesungguhnya, salah satu cara agar tidak menodai hatiku dengan cara-cara yang tidak perlu. Apakah dengan membuat puisi atau sastra latah hal itu lantas mengubah stigma berfikir ibu konde? Tentu saja tidak dilihat dari gaya tubuh dan bahasanya saja entah mengapa hal itu memang “setingan” belaka, permintaa...

Awal Hijrahku

Tiba-tiba dikepalaku hiruk pikuk ramai akan suara sekaan mengingatkan aku pada masa2 dimana kenalakan remaja masih berkobar didadaku.  Yah Aku, Aku seorang anak remaja yang duduk dibangku SMP kelas 1, aku ingat sebelum masuk SMP aku sangat berkenginan untuk masuk sekolah madrasah/pesantren, tetapi yah Hal ini belum rezekiku, bapak tidak mengindahkan permintaan ku. Karena tak rela berpisah dengan anak perempuan satu2nya. Entah alasan ini begitu klasik bagiku dulu bahkan mungkin hingga sekarang.  Hal ini bermula dari sini.  Hehehe, aku ingat dulu bapak dan mama membawa aku untuk berkeliling pesantren yang ingin ku tuju, hari itu sepi, krn masih liburan sekolah, indah sekali. Ruangan demi ruangan aku masuki dengan riyang dan gembira aku bertanya kepada ibu pengasuh sekolah. Beliaupun menjawab dengan penuh suka cita. Berjalan mengelilingi kantin dapur kamar2 seakan jelas di mataku seperti lensa film yang sedang memutarkan kisah 5 menara. Di benakku banyak santri ya...